Masa penjajahan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Presiden RI Soekarno.
Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Nazi Jerman. Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara di bulan Desember tahun itu. Di bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942.
1. Pendudukan Jepang di Indonesia
Pada tahun 1939 meletus perang dunia II. Pada awalnya perang tersebut terjadi di Eropa. Pihak yang berperang adalah kelompok sentral melawan sekutu. Kelompok sentral terdiri atas Jerman, Italia, dan Jepang. Kelompok Sekutu terdiri atas Amerika, Inggris, Perancis, Rusia, Belanda, Cina, dan Australia. Perang tersebut meluas sampai ke Asia Pacific termasuk Indonesia.
Jepang mengawali perang Asia Pasifik dengan menyerang Pearl Harbour, pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Hawaii. Penyerangan tersebut dilakukan pada tanggal 8 Desember 1941. Jepang menyebut perang Asia Pacific sebagai perang Asia Timur Raya.
Pada awal perang dunia II, Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda. Belanda mulai merasa khawatir ketika Jepang sudah berhasil menduduki daerah-daerah di Asia. Jepang juga menyatakan perang melawan Belanda di Indonesia.
Pada tanggal 11 Januari 1942, pasukan Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada tanggal 23 Januari 1942, Jepang menduduki Balikpapan, juga di Kalimantan Timur. Selanjutnya, 14 Februari 1942 giliran Palembang jatuh ketangan Jepang, dan tanggal 16 Februari, daerah Plaju dikuasai Jepang. Kota-kota yang dikuasai dan diduduki Jepang adalah kota penghasil minyak bumi. Setelah itu batu diarahkan ke pulau Jawa.
Pada tanggal 1 maret 1942, tentara Jepang berhasil mendarat secara serempak di tiga tempat di pulau Jawa, yaitu sekitar Merak dan Teluk Banten, di sekitar Eretan Wetan. Batavia dapat diduduki dan dikuasai Jepang pada tanggal 5 maret 1942. Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati, Subang, Jawa Barat.
Kedatangan tentara Jepang yang berhasil mengalahkan Belanda semula disambut dengan tangan terbuka oleh bangsa Indonesia. Di mana-mana tentara Jepang disambut sebagai tentara yang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajan Belanda.
Untuk memikat hati bangsa Indonesia, pemerintah pendudukan Jepang mengambil tindakan sebagi berikut :
a. para pemimpin nasional Indonesia yang ditahan pada masa pemerintahan colonial Belanda dibebaskan.
b. Lagu Indonesia raya boleh diperdengarkaan di muka umum.
c. Bendera bangsa Indonesia, merah putih boleh dikibarkan adalkan bendera Jepang hinomaru juga ikut berkibar.
c. Bahasa Indonesia diijinkan digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari.
Bangsa Indonesia makin terpikat dengan kebijakan pemerintah pendudukan Jepang. Bangsa Indonesia merasa gembira dan mempunyai harapan untuk merdeka. Oleh karena itu, banyak rakyat Indonesia yang ikut membantu Jepang melawan Sekutu.
Meskipun demikian, Jepang menduduki Indonesia dari tahun 1942 sampai dengan 1945 juga sebagai penjajah. Bahkan Jepang lebih kejam daripada Belanda. Jepang ingin mendapatkan keuntungan dari Indonesia. Jepang juga berusaha memperalat bangsa Indonesia agar mau membantu dalam perang melawan sekutu.
Kekejaman tentara Jepang yang tidak mengenal perikemanusia, membuat bangsa Indonesia menjadi menderita. Banyak pemuda yang tidak kembali dan tidak diketahui nasibnya.
Penderitaan lahir dan batin yang dialami rakyat Indonesia selama masa pendudukan Jepang, menimbulkan rasa benci yang mendalam di hati rakyat Indonesia. Akibatnya timbul pemberontakan di mana-mana. Pemberontakan-pemberontakan itu di antaranya:
a. Perlawanan rakyat Aceh tahun 1942, di Cot Pileng, yang dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil.
b. Perlawanan rakyat Biak, Papua tahun 1943, yang dipimpin oleh L. Rumkorem.
c. Perlawanan rakyat Pontianak, Kalimantan Barat tahun 1944. dipimpin oleh Pang Suma seorang pemimpin suku dayak.
d. Perlawanan rakyat Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat pada tahun 1944. dipimpin oleh K.H Zainal Mustafa.
e. Pemberontakan Peta di Blitar pada tahun 1943 – 1945. dipimpin oleh Supriyadi.
Masih banyak lagi masyarakat di daerah yang melakukan perlawanan terhadap tentara pendudukan Jepang. Perjuangan terus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
2. Sebab Akibat Pengerahan Tenaga Romusha Oleh Jepang Terhadap Penduduk Indonesia
Pada mulanya, kedatangan tentara Jepang disambut gmbira oleh bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia berharap, dengan kedatangan Jepang, bangsa Indonesia terlepas dari pendetaan yang dialami selama penjajahan Belanda. Namun, lama-kelamaan makin terasa betapa kasar dan bengisnya tentara Jepang, bahkan lebih kejam dari tentara Belanda.
Pada masa pendudukan, Jepang bangsa Indonesia hidup melarat dan menderita. Harta kekayaan dirampas dan semua bahan makanan diangkut ke Jepang. Jika penduduk memiliki kekayaan atau harta simpanan dipaksa menyerahkan barangnya kepada Jepang.
Tanah-tanah pertanian pun diminta Jepang untuk kebutuhan perangnya. Tanah pertanian milik bangsa Indonesia diharuskan untuk ditanami tanaman waji, seperti tanaman jarak. Biji buah jarak sangat berguna untuk keperluan pembuatan minyak yang diperlukan untuk menjalankan mesin perang Jepang.
Petani hanya berhak mengerjakan tanah, sedangkan hasil panen diserahkan kepada Jepang. Jika menentang, rakyat akan disiksa. Dengan demikian, rakyat benar-benar menderita.
Kebutuhan bahan sandang bagi rakyat Indonesia, seperti baju an celana pada masa pendudukan Jepang sangat berkurang. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, kebutuhan sandang selain diusahakan oleh bangsa Indonesia juga dilakukan impor. Akan tetapi, pada masa pendudukan Jepang kegiatan impor baraang dihentikan. Bangsa Indonesia pun tidak dapat mengusahakan sendiri karena lahan pertanian banyak ditanami oleh pohon jarak. Akibatnya, bangsa Indonesia mengalami kekurangan bahan sandang. Banyak rakyat Indonesia yang hanya memakai pakaian dari bahan karet dan goni.
Penderitaan rakyat Indonesia semakin lengkap karena tidak tersedianya obat-obatan. Rakyat mudah terserang penyakit seperti typus, kolera, disentri, malaria, dan lain-lain. Banyak rakyat yang mati karena kelaparan dan sakit yang tidak terobati.
Selain memeras kekayaan alam, Jepang juga menjadikan rakyat Indonesia sebagai romusha (tenaga kerja paksa). Rakyat Indonesia dipaksa bekerja membuat lapangan terbang, membuat jalan-jalan, dan pos pertahanan.
Tenaga kerja tidak hanya dipekerjakan di dalam negeri saja, tetapi dikirim juga keluar negeri sebagai tenaga kerja di perkebunan. Ada yang dikirim ke Vietnam, Myanmar, Thailand, dan Malaysia. Nasib mereka sangat memprihatinkan. Disuruh bekerja keras tanpa menerima upah. Bagi yang membantah akan mendapat hukuman badan berupa siksaan dan pukulan. Akibat dari siksaan tersebut banyak yang meninggal dunia.
Demikianlah penderitaan rakyat Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Kelaparan, kemiskinan, serta penyakit terjadi di mana-mana.
No comments:
Post a Comment