Ciri-ciri Sosial dan Budaya di Setiap Kenampakan Alam
Ciri-ciri keadaan sosial dan budaya di setiap kenampakan alam yang terdapat di Indonesia berbeda-beda. Untuk mengetahuinya ikutilah penjelasan berikut ini!
1. Keadaan sosial
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kenampakan alam yang terdapat di Indonesia sangat beragam. Tentunya di setiap kenampakan alam itu terdapat masyarakat yang memilihnya sebagai tempat tinggal. Dengan demikian, tempat tinggal masyarakat Indonesia itu sangat beragam pula. Ada yang tinggal di daerah pegunungan, pantai, dataran rendah dan lain-lain. Kehidupan masyarakat sangat bergantung pada keadaan alam sekitarnya. Oleh sebab itu, keadaan geografis suatu tempat akan mempengaruhi pola hidup masyarakat yang menempatinya.
Tempat yang dihuni masyarakat dapat dibedakan menjadi pedesaan dan perkotaan. Oleh sebab itu, timbullah istilah masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan. Dilihat dari keadaan sosialnya kedua bentuk masyarakat tersebut terdapat perbedaan.
Hampir sebagian besar penduduk Indonesia bertempat tinggal di pedesaan. Matapencarian utamanya adalah di bidang pertanian. Untuk itu Indonesia disebut sebagai negara agraris. Kehidupan masyarakat di daerah pedesaan masih mengandalkan keadaan alam sekitarnya. Bertani, berladang, berkebun, dan menjadi nelayan merupakan matapencarian utama masyarakat desa. Sumber daya alam yang tersedia dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Biasanya penduduk yang mendiami suatu desa sangat kecil dan homogen. Nilai-nilai kekerabatan dan budaya gotong royong masih sangat erat dan terjaga dengan baik. Masyarakat pedesaan masih memegang teguh adat istiadat. Berbagai kegiatan adat istiadat sering dilakukan pada masyarakat pedesaan.
Berbeda halnya dengan segi kehidupan masyarakat perkotaan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka sudah tidak mengandalkan sumber daya alam. Kita jarang menemukan pada masyarakat perkotaan yang bermatapencarian di bidang pertanian atau perkebunan. Sebaliknya, matapencarian di luar bidang pertanian atau perkebunan sering kita temui pada masyarakat perkotaan. Bidang perdagangan dan jasa merupakan matapencarian utama masyarakat di daerah perkotaan.
Masyarakat perkotaan merupakan masyarakat yang heterogen. Masyarakatnya terdiri dari berbagai daerah yang berlainan sehingga budayanya pun berbeda-beda. Tidak seperti masyarakat pedesaan, masyarakat yang tinggal di perkotaan sudah tidak begitu ketat menjalankan adat istiadatnya. Untuk itu kita jarang melihat kegiatan adat istiadat di perkotaan.
2. Keadaan budaya
Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keragaman budayanya. Setiap daerah memiliki budaya daerahnya masing-masing. Kebudayaan suatu daerah merupakan ciri khas yang membedakan antara daerah yang satu dengan yang lainnya. Budaya tiap-tiap daerah di Indonesia dapat dikenali melalui kenampakan budayanya. Bentuk budaya sangat dipengaruhi oleh keadaan alam setempat sehingga terbentuklah budaya yang beragam.
a. Rumah tradisional
Keadaan alam suatu daerah mempengaruhi bentuk rumah yang dibuat oleh masyarakatnya. Keadaan seperti itu dapat kita lihat dari beragamnya bentuk rumah adat yang terdapat di Indonesia.
Kita mengenal rumah panggung. Rumah panggung adalah rumah tinggal yang tepat bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawa. Selain untuk melindungi dari banjir, pada zaman dahulu rumah panggung dibuat untuk melindungi diri dari serangan binatang buas.
Di samping itu, bahan baku untuk pembuatan rumah pun sangat bergantung pada keadaan alam sekitarnya. Ada rumah yang atapnya menggunakan genteng. Penggunaan genteng sebagai atap dimungkinkan bagi masyarakat yang mudah memperoleh bahan bakunya yaitu tanah liat. Atau ada pula yang masih menggunakan daun lontar atau rumbia sebagai atapnya.
b. Tarian daerah
Salah satu bentuk kreasi seni masyarakat adalah dalam bentuk tari-tarian. Tari-tarian mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Ada yang untuk menyambut tamu, menghormati tamu, sebagai persembahan, atau hanya sebagai hiburan untuk mengisi waktu luang.
c. Pakaian tradisional
Pakaian tradisional yang kita miliki sangat beragam. Itulah bentuk kekayaan bangsa yang tidak ternilai. Bentuk dan bahan yang digunakan pun sangat beragam. Semua itu sangat bergantung pada keadaan alam sekitarnya. Ada yang masih sederhana, namun banyak juga pakaian tradisional yang sudah kompleks.
Ilmu Pengetahuan Sosial
Friday, 14 October 2016
Kenampakan Alam Wilayah Perairan dan Pemanfaatannya
Kenampakan Alam Wilayah perairan
1. Sungai
Sungai merupakan daerah aliran air yang bersumber dari gunung atau pegunungan sebagai hulunya dan bermuara di laut. Sungai-sungai yang ada di Indonesia di antaranya, Sungai Citarum di Jawa Barat, Sungai Musi di Sumatera Selatan, dan Sungai Barito yang mengalir panjang di Kalimantan Tengah.
Sungai-sungai di Pulau Kalimantan pada umumnya dimanfaatkan sebagai sarana transportasi. Di Kalimantan perahu merupakan sarana transportasi yang penting. Di beberapa daerah tertentu di Indonesia sungai memiliki nama yang bermacam-macam.
Banyak perkampungan penduduk yang menempati pinggiran sungai. Sejak berabad-abad, banyak pemukiman penduduk di berbagai wilayah tumbuh di sepanjang pesisir sungai dan pantai.
Kehidupan masyarakat pesisir sungai sangat bergantung dari sungai itu. Mereka memanfaatkan air sungai mulai dari mencuci, mandi, bahkan air minum. Hingga kini, sungai pun merupakan jalur transportasi utama bagi masyarakat pesisir.
2. Danau
Danau adalah daerah perairan yang menggenang mirip kolam berukuran besar. Danau terbagi atas dua jenis, yaitu danau buatan dan danau alam. Beberapa danau di Indonesia di antaranya, Danau Toba di Sumatra Utara, Danau Tondano di Sulawesi Utara, Danau Tempe di Sulawesi Selatan, Danau Poso di Sulawesi Tengah, Danau Batur di Bali, Danau Patenggang di Jawa Barat, Danau Maninjau di Sumatra Barat.
Di beberapa daerah tertentu di Indonesia danau dimanfaatkan untuk tempat rekreasi. Seperti halnya sungai, danau ada yang besar dan ada pula yang kecil.
3. Selat
Selat adalah laut sempit di antara dua pulau, seperti Selat Sunda yang terletak di antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa, Selat Makassar antara Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan, Selat Bali antara Pulau Bali dan Pulau Jawa, Selat Sumba antara Pulau Sumba dan Pulau Flores, Selat Karimata antara Pulau Kalimantan dan Pulau Bangka, Pulau Belitung.
Selat-selat menghubungkan pulau yang satu dengan yang lainnya di kepulauan Indonesia. Oleh sebab itu, banyak yang dimanfaatkan sebagai sarana transportasi.
1. Sungai
Sungai merupakan daerah aliran air yang bersumber dari gunung atau pegunungan sebagai hulunya dan bermuara di laut. Sungai-sungai yang ada di Indonesia di antaranya, Sungai Citarum di Jawa Barat, Sungai Musi di Sumatera Selatan, dan Sungai Barito yang mengalir panjang di Kalimantan Tengah.
Sungai-sungai di Pulau Kalimantan pada umumnya dimanfaatkan sebagai sarana transportasi. Di Kalimantan perahu merupakan sarana transportasi yang penting. Di beberapa daerah tertentu di Indonesia sungai memiliki nama yang bermacam-macam.
Banyak perkampungan penduduk yang menempati pinggiran sungai. Sejak berabad-abad, banyak pemukiman penduduk di berbagai wilayah tumbuh di sepanjang pesisir sungai dan pantai.
Kehidupan masyarakat pesisir sungai sangat bergantung dari sungai itu. Mereka memanfaatkan air sungai mulai dari mencuci, mandi, bahkan air minum. Hingga kini, sungai pun merupakan jalur transportasi utama bagi masyarakat pesisir.
2. Danau
Danau adalah daerah perairan yang menggenang mirip kolam berukuran besar. Danau terbagi atas dua jenis, yaitu danau buatan dan danau alam. Beberapa danau di Indonesia di antaranya, Danau Toba di Sumatra Utara, Danau Tondano di Sulawesi Utara, Danau Tempe di Sulawesi Selatan, Danau Poso di Sulawesi Tengah, Danau Batur di Bali, Danau Patenggang di Jawa Barat, Danau Maninjau di Sumatra Barat.
Di beberapa daerah tertentu di Indonesia danau dimanfaatkan untuk tempat rekreasi. Seperti halnya sungai, danau ada yang besar dan ada pula yang kecil.
3. Selat
Selat adalah laut sempit di antara dua pulau, seperti Selat Sunda yang terletak di antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa, Selat Makassar antara Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan, Selat Bali antara Pulau Bali dan Pulau Jawa, Selat Sumba antara Pulau Sumba dan Pulau Flores, Selat Karimata antara Pulau Kalimantan dan Pulau Bangka, Pulau Belitung.
Selat-selat menghubungkan pulau yang satu dengan yang lainnya di kepulauan Indonesia. Oleh sebab itu, banyak yang dimanfaatkan sebagai sarana transportasi.
Kenampakan Alam Wilayah Daratan dan Pemanfaatannya
Kenampakan Alam Wilayah Daratan
1. Dataran tinggi
Dataran tinggi adalah suatu kenampakan alam di daratan yang didominasi daerah datar dengan ketinggian lebih dari 400 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia terdapat beberapa daerah yang memiliki dataran tinggi. Misalnya, Dataran Tinggi Tengger di Jawa Timur, Dataran Tinggi Bone di Sulawesi Selatan, Dataran Tinggi Bingkoku di Sulawesi Tenggara, Dataran Tinggi Muler di daerah Kalimantan Barat, Dataran Tinggi Charles Louis di Irian jaya, Dataran Tinggi Minahasa di daerah Sulawesi Utara, Dataran Tinggi Penreng di daerah Sulawesi Tengah, Dataran Tinggi Alas di daerah Nangroe Aceh Darussalam, Dataran Tinggi Karo di daerah Sumatera Utara, Dataran Tinggi Kerinci di daerah Sumatera Barat, Dataran Tinggi Cianjur di daerah Jawa Barat, Dataran Tinggi Dieng.
Kenampakan alam seperti ini sangat mempengaruhi kondisi sosial dan budaya masyarakatnya. Di daerah dataran tinggi, memiliki tanah yang subur dan berudara sejuk, sehingga lingkungan itu cocok dimanfaatkan sebagai tempat untuk usaha pertanian seperti tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan. Di sekitar pedesaan daerah dataran tinggi terlihat hamparan lahan pertanian yang ditanami dengan berbagai tanaman seperti kol, sawi, kentang, tomat, wortel, dan bermacam-macam buah-buahan. Selain itu, banyak juga yang dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan untuk tanaman yang sesuai dengan kondisi daerah pegunungan, misalnya perkebunan teh di Puncak (Bogor), perkebunan kopi di Dataran Tinggi Gayo (Aceh Tengah), perkebunan jeruk di Dataran Tinggi Karo (Sumatera Utara). Sebagian kecil dari lahan di daerah dataran tinggi ada juga yang dimanfaatkan untuk pertanian tanaman padi di daerah kering (padi gogo).
Selain dimanfaatkan sebagai daerah pertanian dan perkebunan, karena udaranya yang sejuk, daerah dataran tinggi banyak pula yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi atau wisata.
2. Dataran rendah
Dataran rendah adalah suatu kenampakan alam di daratan yang didominasi daerah datar dengan ketinggian antara 0 - 200 meter di atas permukaan laut. Dataran rendah pada umumnya terdapat di sekitar pesisir pantai.
Di daerah dataran rendah pemanfaatan lahan didominasi untuk persawahan, baik sawah tadah hujan maupun sawah irigasi, sehingga daerah ini merupakan lumbung padi. Lahan-lahan di dataran rendah yang letaknya di pinggir desa banyak dimanfaatkan untuk usaha perkebunan yang ditanami dengan tanaman kelapa dan bermacam-macam jenis buah-buahan.
Di samping itu, dataran rendah pada umumnya banyak pula yang dimanfaatkan manusia untuk berbagai keperluan lain, seperti: peternakan, perumahan, dan industri.
3. Gunung dan pegunungan
Gunung dan pegunungan adalah bagian permukaan bumi yang menyembul ke luar dan merupakan dataran tinggi. Gunung adalah dataran tinggi yang tunggal atau satu. Adapun pegunungan adalah dataran tinggi yang memanjang membentuk gugusan gunung-gunung yang bersambungan. Beberapa gunung yang terkenal di Indonesia di antaranya, Gunung Bromo di Jawa Timur, Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat, Gunung Tangkubanparahu di Jawa Barat. Adapun pegunungan di antaranya, Pegunungan Bukit Barisan di Sumatra, Pegunungan Tengger di Jawa Timur, Pegunungan Iban memisahkan Kalimantan dan Serawak Malaysia, Pegunungan Verbeek menjadi batas antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, Pegunungan Sudirman, dan Pegunungan Jayawijaya di Irian Jaya.
Gunung-gunung dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu gunung berapi dan gunung tidak berapi. Gunung berapi maupun gunung tidak berapi dapat dimanfaatkan oleh manusia. Gunung dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk keperluan perkebunan, rekreasi maupun kegiatan olahraga pendakian.
Daerah pegunungan banyak dimanfaatkan manusia untuk tempat rekreasi atau peristirahatan karena cukup sejuk dan nyaman serta dapat menghilangkan kepenatan. Disamping untuk tempat peristirahatan, daerah pegunungan sangat baik untuk kegiatan pertanian jenis hortikultura. Tanaman jenis hortikultura adalah tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan.
4. Pesisir Pantai
Pesisir pantai adalah bagian kenampakan alam daratan yang berbatasan langsung dengan laut. Negara kita yang terdiri atas pulau besar dan kecil, tentu keadaan pantainya ada yang terjal dan ada pula yang landai. Pantai-pantai yang landai pada umumnya dimanfaatkan untuk daerah tujuan wisata.
Wisatawan yang datang ke tempat tujuan wisata pantai bisa berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Wisatawan yang berasal dari dalam negeri disebut wisatawan domestik, sedangkan wisatawan dari luar negeri disebut wisatawan mancanegara.
Beberapa daerah di Indonesia memiliki pantai yang sudah terkenal sebagai daerah wisata, misalnya Pantai Panimbangan di Kalimantan Barat, Pantai Taksung di Kalimantan Selatan, Pantai Nirwana di Sulawesi Tenggara, Pantai Tanjung Bira dan Losari di Sulawesi Selatan, Pantai Sanur dan Kuta di Bali, Pantai Senggigi di Nusa Tenggara Barat, Pantai Losiana Pantai di Nusa Tenggara Timur, Pantai Korem dan Jendi di Papua, Pantai Kasih di Nangroe Aceh Darussalam, Pantai Cermin di Sumatra Utara, Pantai Air Manis di Sumatra Barat, Pantai Nongsa di Riau, Pantai Nala dan Panjang di Bengkulu, Pantai Matras di Sumatra Selatan, Pantai Ancol di DKI Jakarta, Pantai Pelabuhan Ratu di Jawa Barat, Pantai Carita di Banten, Pantai Ayah di Jawa Tengah, dan Pantai Parangtritis di D.I. Yogyakarta. Selain yang disebutkan di atas, dapatkah kalian menyebutkan pantai terkenal lain yang ada di Indonesia?
1. Dataran tinggi
Dataran tinggi adalah suatu kenampakan alam di daratan yang didominasi daerah datar dengan ketinggian lebih dari 400 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia terdapat beberapa daerah yang memiliki dataran tinggi. Misalnya, Dataran Tinggi Tengger di Jawa Timur, Dataran Tinggi Bone di Sulawesi Selatan, Dataran Tinggi Bingkoku di Sulawesi Tenggara, Dataran Tinggi Muler di daerah Kalimantan Barat, Dataran Tinggi Charles Louis di Irian jaya, Dataran Tinggi Minahasa di daerah Sulawesi Utara, Dataran Tinggi Penreng di daerah Sulawesi Tengah, Dataran Tinggi Alas di daerah Nangroe Aceh Darussalam, Dataran Tinggi Karo di daerah Sumatera Utara, Dataran Tinggi Kerinci di daerah Sumatera Barat, Dataran Tinggi Cianjur di daerah Jawa Barat, Dataran Tinggi Dieng.
Kenampakan alam seperti ini sangat mempengaruhi kondisi sosial dan budaya masyarakatnya. Di daerah dataran tinggi, memiliki tanah yang subur dan berudara sejuk, sehingga lingkungan itu cocok dimanfaatkan sebagai tempat untuk usaha pertanian seperti tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan. Di sekitar pedesaan daerah dataran tinggi terlihat hamparan lahan pertanian yang ditanami dengan berbagai tanaman seperti kol, sawi, kentang, tomat, wortel, dan bermacam-macam buah-buahan. Selain itu, banyak juga yang dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan untuk tanaman yang sesuai dengan kondisi daerah pegunungan, misalnya perkebunan teh di Puncak (Bogor), perkebunan kopi di Dataran Tinggi Gayo (Aceh Tengah), perkebunan jeruk di Dataran Tinggi Karo (Sumatera Utara). Sebagian kecil dari lahan di daerah dataran tinggi ada juga yang dimanfaatkan untuk pertanian tanaman padi di daerah kering (padi gogo).
Selain dimanfaatkan sebagai daerah pertanian dan perkebunan, karena udaranya yang sejuk, daerah dataran tinggi banyak pula yang dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi atau wisata.
2. Dataran rendah
Dataran rendah adalah suatu kenampakan alam di daratan yang didominasi daerah datar dengan ketinggian antara 0 - 200 meter di atas permukaan laut. Dataran rendah pada umumnya terdapat di sekitar pesisir pantai.
Di daerah dataran rendah pemanfaatan lahan didominasi untuk persawahan, baik sawah tadah hujan maupun sawah irigasi, sehingga daerah ini merupakan lumbung padi. Lahan-lahan di dataran rendah yang letaknya di pinggir desa banyak dimanfaatkan untuk usaha perkebunan yang ditanami dengan tanaman kelapa dan bermacam-macam jenis buah-buahan.
Di samping itu, dataran rendah pada umumnya banyak pula yang dimanfaatkan manusia untuk berbagai keperluan lain, seperti: peternakan, perumahan, dan industri.
3. Gunung dan pegunungan
Gunung dan pegunungan adalah bagian permukaan bumi yang menyembul ke luar dan merupakan dataran tinggi. Gunung adalah dataran tinggi yang tunggal atau satu. Adapun pegunungan adalah dataran tinggi yang memanjang membentuk gugusan gunung-gunung yang bersambungan. Beberapa gunung yang terkenal di Indonesia di antaranya, Gunung Bromo di Jawa Timur, Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat, Gunung Tangkubanparahu di Jawa Barat. Adapun pegunungan di antaranya, Pegunungan Bukit Barisan di Sumatra, Pegunungan Tengger di Jawa Timur, Pegunungan Iban memisahkan Kalimantan dan Serawak Malaysia, Pegunungan Verbeek menjadi batas antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, Pegunungan Sudirman, dan Pegunungan Jayawijaya di Irian Jaya.
Gunung-gunung dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu gunung berapi dan gunung tidak berapi. Gunung berapi maupun gunung tidak berapi dapat dimanfaatkan oleh manusia. Gunung dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk keperluan perkebunan, rekreasi maupun kegiatan olahraga pendakian.
Daerah pegunungan banyak dimanfaatkan manusia untuk tempat rekreasi atau peristirahatan karena cukup sejuk dan nyaman serta dapat menghilangkan kepenatan. Disamping untuk tempat peristirahatan, daerah pegunungan sangat baik untuk kegiatan pertanian jenis hortikultura. Tanaman jenis hortikultura adalah tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan.
4. Pesisir Pantai
Pesisir pantai adalah bagian kenampakan alam daratan yang berbatasan langsung dengan laut. Negara kita yang terdiri atas pulau besar dan kecil, tentu keadaan pantainya ada yang terjal dan ada pula yang landai. Pantai-pantai yang landai pada umumnya dimanfaatkan untuk daerah tujuan wisata.
Wisatawan yang datang ke tempat tujuan wisata pantai bisa berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Wisatawan yang berasal dari dalam negeri disebut wisatawan domestik, sedangkan wisatawan dari luar negeri disebut wisatawan mancanegara.
Beberapa daerah di Indonesia memiliki pantai yang sudah terkenal sebagai daerah wisata, misalnya Pantai Panimbangan di Kalimantan Barat, Pantai Taksung di Kalimantan Selatan, Pantai Nirwana di Sulawesi Tenggara, Pantai Tanjung Bira dan Losari di Sulawesi Selatan, Pantai Sanur dan Kuta di Bali, Pantai Senggigi di Nusa Tenggara Barat, Pantai Losiana Pantai di Nusa Tenggara Timur, Pantai Korem dan Jendi di Papua, Pantai Kasih di Nangroe Aceh Darussalam, Pantai Cermin di Sumatra Utara, Pantai Air Manis di Sumatra Barat, Pantai Nongsa di Riau, Pantai Nala dan Panjang di Bengkulu, Pantai Matras di Sumatra Selatan, Pantai Ancol di DKI Jakarta, Pantai Pelabuhan Ratu di Jawa Barat, Pantai Carita di Banten, Pantai Ayah di Jawa Tengah, dan Pantai Parangtritis di D.I. Yogyakarta. Selain yang disebutkan di atas, dapatkah kalian menyebutkan pantai terkenal lain yang ada di Indonesia?
CARA MENGGUNAKAN SKALA PETA
Cara Menggunakan Skala Peta
Skala sangat penting untuk pembuatan sebuah peta, karena dengan memahami skala, kalian dapat menghitung jarak tempat, menggambar, serta memperbesar dan memperkecil peta dengan benar dan tepat. Sebelum kalian diajak untuk mengetahui bagaimana cara menghitung jarak dengan skala dan cara memperbesar serta memperkecil peta dengan skala, ada baiknya kalian mengetahui beberapa jenis skala yang terdapat pada sebuah peta. Pada umumnya, skala peta terdiri dari peta skala besar dan peta skala kecil.
Peta-peta yang dibuat dengan menggunakan skala besar umumnya hanya meliputi sebuah wilayah atau daerah yang sempit. Peta yang dibuat dengan skala besar dapat memperlihatkan jalan raya atau bahkan rumah-rumah dan bangunan lainnya.
Adapun peta-peta benua atau negara, umumnya dibuat dengan skala kecil. Hal ini dilakukan agar dapat menampilkan gambar suatu negara besar, misalnya Indonesia dalam satu halaman kertas yang harus diperkecil.
1. Menghitung Jarak Tempat dengan Menggunakan Skala
Dengan mengetahui skala peta, kamu dapat menghitung berapa jarak sebenarnya dari dua tempat pada peta. Bagaimana cara menentukan jarak sebenarnya dua tempat pada peta dengan skala?
Mengukur jarak dua tempat pada peta dapat dilakukan dengan cara berikut.
a. Menggunakan penggaris apabila kedua tempat tersebut berada pada posisi lurus atau tidak berliku-liku.
b. Menggunakan benang, terutama untuk mengetahui panjang jalan raya, sungai atau panjang pantai yang berliku-liku. Benang diletakkan berdasarkan lekukan tempat pada peta. Benang tersebut lalu diukur dengan penggaris. Dengan demikian, kamu dapat mengetahui jarak/panjang suatu tempat.
Untuk mempraktekkan bagaimana caranya mengukur jarak suatu tempat dengan skala peta. Coba kalian perhatikan kembali peta Provinsi Bali. Skala angka seperti tertulis pada peta Provinsi Bali itu adalah SKALA 1 : 636.000. Artinya, setiap 1 cm dikalikan dengan angka 636.000. Misalnya, kamu ingin mengetahui jarak sesungguhnya antara Denpasar-Tabanan. Ukurlah jaraknya pada peta dengan menggunakan mistar.
Apabila setelah diukur memperoleh hasil 2,5 cm, maka 2,5 x 636.000 = 1,590.000 cm. Jika dijadikan kilometer menjadi 15,9 km. Jadi, jarak sesungguhnya antara Denpasar-Tabanan sekitar 15,9 km.
Seperti telah kalian ketahui pada penjelasan dimuka, skala peta itu ada yang dinamakan skala tongkat. Peta yang mencantumkan skala tongkat memudahkan untuk dihitung. Satuan cm yang dihitung dari pengukuran dengan mistar, tinggal melihat pada skala garis tersebut. Misalnya, jarak dari kota A ke kota B mencapai 1 cm. Lihatlah angka 1 di bawah garis. Lalu, lihat pula angka di atasnya. Angka 25 menunjukan angka yang sesungguhnya yaitu 25 km. Demikian pula bila pengukuran dengan mistar mencapai 2 cm, jarak sesungguhnya 50 km. Bila 3 cm, jarak sesungguhnya adalah 75 km. Bila 4 cm, jarak sesungguhnya adalah 100 km dan seterusnya.
2. Memperbesar dan Memperkecil Peta dengan Skala Peta
Adapun memperbesar peta dapat dilakukan dengan cara memperluas bidang petak skala sesuai ukuran kelipatan yang diinginkan. Cara memperkecil peta dilakukan dengan cara mempersempit bidang petak skala sesuai ukuran yang diharapkan pada kertas gambar atau karton tempat peta tersebut akan digambarkan.
Skala sangat penting untuk pembuatan sebuah peta, karena dengan memahami skala, kalian dapat menghitung jarak tempat, menggambar, serta memperbesar dan memperkecil peta dengan benar dan tepat. Sebelum kalian diajak untuk mengetahui bagaimana cara menghitung jarak dengan skala dan cara memperbesar serta memperkecil peta dengan skala, ada baiknya kalian mengetahui beberapa jenis skala yang terdapat pada sebuah peta. Pada umumnya, skala peta terdiri dari peta skala besar dan peta skala kecil.
Peta-peta yang dibuat dengan menggunakan skala besar umumnya hanya meliputi sebuah wilayah atau daerah yang sempit. Peta yang dibuat dengan skala besar dapat memperlihatkan jalan raya atau bahkan rumah-rumah dan bangunan lainnya.
Adapun peta-peta benua atau negara, umumnya dibuat dengan skala kecil. Hal ini dilakukan agar dapat menampilkan gambar suatu negara besar, misalnya Indonesia dalam satu halaman kertas yang harus diperkecil.
1. Menghitung Jarak Tempat dengan Menggunakan Skala
Dengan mengetahui skala peta, kamu dapat menghitung berapa jarak sebenarnya dari dua tempat pada peta. Bagaimana cara menentukan jarak sebenarnya dua tempat pada peta dengan skala?
Mengukur jarak dua tempat pada peta dapat dilakukan dengan cara berikut.
a. Menggunakan penggaris apabila kedua tempat tersebut berada pada posisi lurus atau tidak berliku-liku.
b. Menggunakan benang, terutama untuk mengetahui panjang jalan raya, sungai atau panjang pantai yang berliku-liku. Benang diletakkan berdasarkan lekukan tempat pada peta. Benang tersebut lalu diukur dengan penggaris. Dengan demikian, kamu dapat mengetahui jarak/panjang suatu tempat.
Untuk mempraktekkan bagaimana caranya mengukur jarak suatu tempat dengan skala peta. Coba kalian perhatikan kembali peta Provinsi Bali. Skala angka seperti tertulis pada peta Provinsi Bali itu adalah SKALA 1 : 636.000. Artinya, setiap 1 cm dikalikan dengan angka 636.000. Misalnya, kamu ingin mengetahui jarak sesungguhnya antara Denpasar-Tabanan. Ukurlah jaraknya pada peta dengan menggunakan mistar.
Apabila setelah diukur memperoleh hasil 2,5 cm, maka 2,5 x 636.000 = 1,590.000 cm. Jika dijadikan kilometer menjadi 15,9 km. Jadi, jarak sesungguhnya antara Denpasar-Tabanan sekitar 15,9 km.
Seperti telah kalian ketahui pada penjelasan dimuka, skala peta itu ada yang dinamakan skala tongkat. Peta yang mencantumkan skala tongkat memudahkan untuk dihitung. Satuan cm yang dihitung dari pengukuran dengan mistar, tinggal melihat pada skala garis tersebut. Misalnya, jarak dari kota A ke kota B mencapai 1 cm. Lihatlah angka 1 di bawah garis. Lalu, lihat pula angka di atasnya. Angka 25 menunjukan angka yang sesungguhnya yaitu 25 km. Demikian pula bila pengukuran dengan mistar mencapai 2 cm, jarak sesungguhnya 50 km. Bila 3 cm, jarak sesungguhnya adalah 75 km. Bila 4 cm, jarak sesungguhnya adalah 100 km dan seterusnya.
2. Memperbesar dan Memperkecil Peta dengan Skala Peta
Adapun memperbesar peta dapat dilakukan dengan cara memperluas bidang petak skala sesuai ukuran kelipatan yang diinginkan. Cara memperkecil peta dilakukan dengan cara mempersempit bidang petak skala sesuai ukuran yang diharapkan pada kertas gambar atau karton tempat peta tersebut akan digambarkan.
Mengenal Bagian-Bagian Peta dan Atlas
Mengenal Bagian-Bagian Peta dan Atlas
Sebelum mengenal lebih jauh mengenai peta provinsi dan cara pembuatannya, terlebih dahulu perlu kalian ketahui apa yang dimaksud dengan peta serta bagian-bagian (komponen) yang dimuat pada peta atau atlas. Untuk itu, marilah kita segera membahasnya berikut ini.
1. Mengenal Bagian-bagian sebuah Peta
Apakah yang dimaksud dengan peta?
Coba kalian perhatikan pada dinding kelas! Di sana, mungkin terpampang gambar pulau. Apakah itu merupakan pulau-pulau keseluruhan yang ada di Indonesia, salah satu pulau yang ada di Indonesia, atau hanya satu provinsi yang ada di Indonesia. Gambar itulah yang disebut peta. Dalam peta digambarkan pulau dan lautnya.
Ingatlah bahwa pulau adalah permukaan bumi yang berbentuk daratan, sedangkan laut merupakan permukaan bumi dalam bentuk air. Bila peta yang kamu lihat merupakan gambar pulau dan laut, arti peta itu adalah gambar permukaan bumi yang berbentuk daratan ditambah perairan di sekitarnya.
Sekali lagi, kamu perhatikan pada peta! Apa saja yang tertulis di sekitar peta itu?
Ada bagian-bagian tertentu pada peta yang harus kamu pahami, yaitu judul, skala, mata angin, dan legenda.
Untuk memahami arti dari bagian-bagian tersebut, perhatikan terlebih dahulu sebuah peta provinsi berikut ini!
a. Judul
Pada bagian atas peta selalu dicantumkan judul, sebagai tanda pengenal atau permukaan daratan yang digambar pada peta tersebut. Judul peta bisa berupa nama provinsi, nama negara, nama kawasan yang menghimpun beberapa negara, nama benua, atau permukaan bumi secara keseluruhan yang disebut dunia.
b. Skala
Skala adalah perbandingan jarak pada peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi. Skala berguna untuk mengetahui ukuran luas dan jarak sesungguhnya peta tersebut.
Ada dua jenis skala yang digunakan pada peta, yaitu skala angka dan skala garis atau skala tongkat.
Adapun skala tongkat ditulis seperti di bawah ini.
c. Mata Angin
Kamu perhatikan pada peta! Ada garis yang mendatar dan ada garis yang ditarik dari atas ke bawah. Garis yang mendatar disebut garis lintang. Garis yang ditarik dari atas ke bawah disebut garis bujur. Garis lintang yang bertanda 0 adalah Garis Khatulistiwa. Garis yang membentang di atas garis khatulistiwa disebut garis Lintang Utara (LU). Garis yang membentang di bawah garis khatulistiwa disebut garis Lintang Selatan (LS). Demikian juga pada garis bujur, ada yang disebut garis Bujur Timur (BT) dan ada yang disebut Bujur Barat (BB). Simbol utara (U) pada peta umumnya tidak dicantumkan.
d. Legenda
Legenda adalah simbol yang menyatakan keadaan tempat, misalnya gunung digambar segi tiga. Bila warnanya merah, gunung itu masih berapi. Bila dengan warna hitam berarti gunung sudah mati. Apabila di suatu pulau kecil ada segitiga merah, berarti dipulau tersebut ada gunung berapi. Seperti di Pulau Krakatau, ada Gunung Krakatau yang masih berapi. Pada peta, Pulau Krakatau tersebut ada segi tiga merah. Legenda lainnya adalah kota, sungai, jalan, danau, batas wilayah, dan sebagainya.
2. Mengenal Bagian-bagian Atlas
Kamu telah mengenal peta provinsi masing-masing. Bila peta-peta itu disusun dan digabungkan dalam satu buku, itulah yang disebut atlas. Selain memuat susunan provinsi, peta negara, atau ditambah dengan peta dunia, atlas juga dilengkapi dengan gambar flora dan fauna, aneka ragam kebudayaan daerah, adat istiadat, tempat-tempat penting, dan bendera-bendera dari berbagai negara.
Bagian-bagian pada atlas sama dengan bagian-bagian yang ada pada peta. Ada judul, skala, mata angin, dan legenda. Pada atlas, legenda terletak di halaman-halaman awal. Di akhir halaman, ada yang disebut indeks. Indeks adalah susunan kata-kata penting yang suatu saat diperlukan untuk dicari pada halaman tertentu.
Perhatikan contoh indeks di bawah ini!
Indramayu 29 C5 Kapuas 37 D4
Artinya Indramayu adalah salah satu kota yang diawali dengan abjad I dan terdapat pada halaman 29 atlas tersebut. C5 adalah petak tempat kota Indramayu berada. C adalah jajaran petak dari atas ke bawah, sedangkan 5 adalah petak mendatar.
Perhatikan contoh berikut ini!
Kapuas 37 D4 Kapuas adalah nama sungai yang diawali abjad K.
Provinsi Kalimantan Barat
Gambar 1.2 Mencari nama sungai dengan indeks
Jika kamu telah menemukan Indramayu pada halaman 29 dan petak C5, kamu dapat menyimpulkan bahwa Indramayu adalah ibukota kabupaten yang terletak pada peta Provinsi Jawa Barat. Kapuas adalah salah satu sungai yang berada pada peta Provinsi Kalimantan Barat. Sungai Kapuas di Kalimantan ada dua, yaitu Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, dan Sungai Kapuas di Kalimantan Tengah.
Atlas adalah gabungan peta yang tersusun dalam bentuk buku.
1. Ambillah peta provinsimu! Ukurlah dua buah kota yang kamu inginkan dengan mistar! Berapa sentimeter yang diperoleh? Kalikanlah dengan skala yang tercantum pada peta itu! Jadikanlah kilometer! Berapa kilometer jarak dari kota yang satu ke kota yang kamu ukur tersebut?
2. Bukalah halaman akhir sebuah atlas yang ada indeksnya! Carilah kata-kata Ciremai, Kudus, Barito, dan Tondano! Nama apakah itu? Di manakah letaknya?
Sebelum mengenal lebih jauh mengenai peta provinsi dan cara pembuatannya, terlebih dahulu perlu kalian ketahui apa yang dimaksud dengan peta serta bagian-bagian (komponen) yang dimuat pada peta atau atlas. Untuk itu, marilah kita segera membahasnya berikut ini.
1. Mengenal Bagian-bagian sebuah Peta
Apakah yang dimaksud dengan peta?
Coba kalian perhatikan pada dinding kelas! Di sana, mungkin terpampang gambar pulau. Apakah itu merupakan pulau-pulau keseluruhan yang ada di Indonesia, salah satu pulau yang ada di Indonesia, atau hanya satu provinsi yang ada di Indonesia. Gambar itulah yang disebut peta. Dalam peta digambarkan pulau dan lautnya.
Ingatlah bahwa pulau adalah permukaan bumi yang berbentuk daratan, sedangkan laut merupakan permukaan bumi dalam bentuk air. Bila peta yang kamu lihat merupakan gambar pulau dan laut, arti peta itu adalah gambar permukaan bumi yang berbentuk daratan ditambah perairan di sekitarnya.
Sekali lagi, kamu perhatikan pada peta! Apa saja yang tertulis di sekitar peta itu?
Ada bagian-bagian tertentu pada peta yang harus kamu pahami, yaitu judul, skala, mata angin, dan legenda.
Untuk memahami arti dari bagian-bagian tersebut, perhatikan terlebih dahulu sebuah peta provinsi berikut ini!
a. Judul
Pada bagian atas peta selalu dicantumkan judul, sebagai tanda pengenal atau permukaan daratan yang digambar pada peta tersebut. Judul peta bisa berupa nama provinsi, nama negara, nama kawasan yang menghimpun beberapa negara, nama benua, atau permukaan bumi secara keseluruhan yang disebut dunia.
b. Skala
Skala adalah perbandingan jarak pada peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi. Skala berguna untuk mengetahui ukuran luas dan jarak sesungguhnya peta tersebut.
Ada dua jenis skala yang digunakan pada peta, yaitu skala angka dan skala garis atau skala tongkat.
Adapun skala tongkat ditulis seperti di bawah ini.
c. Mata Angin
Kamu perhatikan pada peta! Ada garis yang mendatar dan ada garis yang ditarik dari atas ke bawah. Garis yang mendatar disebut garis lintang. Garis yang ditarik dari atas ke bawah disebut garis bujur. Garis lintang yang bertanda 0 adalah Garis Khatulistiwa. Garis yang membentang di atas garis khatulistiwa disebut garis Lintang Utara (LU). Garis yang membentang di bawah garis khatulistiwa disebut garis Lintang Selatan (LS). Demikian juga pada garis bujur, ada yang disebut garis Bujur Timur (BT) dan ada yang disebut Bujur Barat (BB). Simbol utara (U) pada peta umumnya tidak dicantumkan.
d. Legenda
Legenda adalah simbol yang menyatakan keadaan tempat, misalnya gunung digambar segi tiga. Bila warnanya merah, gunung itu masih berapi. Bila dengan warna hitam berarti gunung sudah mati. Apabila di suatu pulau kecil ada segitiga merah, berarti dipulau tersebut ada gunung berapi. Seperti di Pulau Krakatau, ada Gunung Krakatau yang masih berapi. Pada peta, Pulau Krakatau tersebut ada segi tiga merah. Legenda lainnya adalah kota, sungai, jalan, danau, batas wilayah, dan sebagainya.
2. Mengenal Bagian-bagian Atlas
Kamu telah mengenal peta provinsi masing-masing. Bila peta-peta itu disusun dan digabungkan dalam satu buku, itulah yang disebut atlas. Selain memuat susunan provinsi, peta negara, atau ditambah dengan peta dunia, atlas juga dilengkapi dengan gambar flora dan fauna, aneka ragam kebudayaan daerah, adat istiadat, tempat-tempat penting, dan bendera-bendera dari berbagai negara.
Bagian-bagian pada atlas sama dengan bagian-bagian yang ada pada peta. Ada judul, skala, mata angin, dan legenda. Pada atlas, legenda terletak di halaman-halaman awal. Di akhir halaman, ada yang disebut indeks. Indeks adalah susunan kata-kata penting yang suatu saat diperlukan untuk dicari pada halaman tertentu.
Perhatikan contoh indeks di bawah ini!
Indramayu 29 C5 Kapuas 37 D4
Artinya Indramayu adalah salah satu kota yang diawali dengan abjad I dan terdapat pada halaman 29 atlas tersebut. C5 adalah petak tempat kota Indramayu berada. C adalah jajaran petak dari atas ke bawah, sedangkan 5 adalah petak mendatar.
Perhatikan contoh berikut ini!
Kapuas 37 D4 Kapuas adalah nama sungai yang diawali abjad K.
Provinsi Kalimantan Barat
Gambar 1.2 Mencari nama sungai dengan indeks
Jika kamu telah menemukan Indramayu pada halaman 29 dan petak C5, kamu dapat menyimpulkan bahwa Indramayu adalah ibukota kabupaten yang terletak pada peta Provinsi Jawa Barat. Kapuas adalah salah satu sungai yang berada pada peta Provinsi Kalimantan Barat. Sungai Kapuas di Kalimantan ada dua, yaitu Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, dan Sungai Kapuas di Kalimantan Tengah.
Atlas adalah gabungan peta yang tersusun dalam bentuk buku.
1. Ambillah peta provinsimu! Ukurlah dua buah kota yang kamu inginkan dengan mistar! Berapa sentimeter yang diperoleh? Kalikanlah dengan skala yang tercantum pada peta itu! Jadikanlah kilometer! Berapa kilometer jarak dari kota yang satu ke kota yang kamu ukur tersebut?
2. Bukalah halaman akhir sebuah atlas yang ada indeksnya! Carilah kata-kata Ciremai, Kudus, Barito, dan Tondano! Nama apakah itu? Di manakah letaknya?
Thursday, 29 September 2016
TANAH LONGSOR
tanah longsor
Telah dijelaskan bahwa Indonesia dan negara-negara tetangga rawan terhadap bencana letusan gunung api dan gempa bumi. Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia merupakan hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/pegunungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.
Sering kali kita mendengar berita terjadinya peristiwa tanah longsor. Tahukah kamu apakah bencana alam tanah longsor itu? Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng.
Bencana alam tanah longsor terjadi tidak semata-mata karena peristiwa yang terjadi karena faktor alam. Manusia pun turut menimbulkan terjadinya bencana tanah longsor.
Tahukah kamu bagaimana proses tanah longsor terjadi? Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Hujan deras terjadi di lereng-lereng pegunungan yang lahannya gundul karena pohon-pohon ditebangi.
2. Air hujan meresap ke dalam tanah. Resapan air ke dalam tanah akan menambah bobot tanah yang berada di tebing-tebing atau dataran tinggi.
3. Air tersebut menembus sampai tanah kedap air. Pada akhirnya air berperan sebagai bidang gelincir. Akibatnya, tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
4. Terjadilah tanah longsor. Tanah longsor menimbun segala yang ada di bawahnya. Tempat tinggal, manusia, hewan peliharaan, dan lain-lain, semuanya tertimbun. Korban pun berjatuhan.
Telah dijelaskan bahwa Indonesia dan negara-negara tetangga rawan terhadap bencana letusan gunung api dan gempa bumi. Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia merupakan hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/pegunungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.
Sering kali kita mendengar berita terjadinya peristiwa tanah longsor. Tahukah kamu apakah bencana alam tanah longsor itu? Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng.
Bencana alam tanah longsor terjadi tidak semata-mata karena peristiwa yang terjadi karena faktor alam. Manusia pun turut menimbulkan terjadinya bencana tanah longsor.
Tahukah kamu bagaimana proses tanah longsor terjadi? Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Hujan deras terjadi di lereng-lereng pegunungan yang lahannya gundul karena pohon-pohon ditebangi.
2. Air hujan meresap ke dalam tanah. Resapan air ke dalam tanah akan menambah bobot tanah yang berada di tebing-tebing atau dataran tinggi.
3. Air tersebut menembus sampai tanah kedap air. Pada akhirnya air berperan sebagai bidang gelincir. Akibatnya, tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
4. Terjadilah tanah longsor. Tanah longsor menimbun segala yang ada di bawahnya. Tempat tinggal, manusia, hewan peliharaan, dan lain-lain, semuanya tertimbun. Korban pun berjatuhan.
Letusan gunung berapi
Gunung berapi adalah gunung yang dapat mengeluarkan cairan yang terdapat di dalam perut bumi. Cairan panas yang terkandung di dalam perut bumi itu disebut magma. Pada waktu gunung meletus, magma disemburkan ke luar. Cairan panas yang ke luar dalam perut bumi pada waktu gunung api meletus disebut lahar. Selama letusan gunung api berlang-sung, banyak sekali bahan (material) yang dimuntahkan oleh gunung api tersebut. Bahan material tersebut antara lain batu padat yang besar-besar yang terbentuk dari lava yang mengeras (membeku), batu kecil (kerikil) yang disebut Lapilli. Muntahan gunung api yang paling kecil adalah abu halus. Abu halus ini biasa melayang-layang di udara membentuk awan. Pada awalnya debu ini mematikan tanaman dan menyebab-kan penyakit pernapasan. Namun, setelah turun hujan, abu dari letusan gunung berapi menjadi sangat bermanfaat, karena mengandung berbagai mineral yang dapat menyuburkan tanah.
Letusan gunung berapi yang pernah terjadi di Indonesia antara lain, Gunung Merapi dan Gunung Bromo di Jawa Tengah, Gunung Soputan di Sulawesi Utara, Gunung Agung di Bali, Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat, Gunung Puetsago di Nanggroe Aceh Darussalam, Gunung Sorikmarap di Sumatra Utara, Gunung Kerinci di Sumatra Barat, Gunung Dempo di Sumatra Selatan, Gunung Galunggung di Jawa Barat.
Saat ini di akhir tahun 2007 beberapa gunung api aktif kembali. Gunung yang aktif kembali itu adalah Gunung Merapi, Gunung Kelud, dan Anak Gunung Krakatau.
Subscribe to:
Comments (Atom)